running text

SELAMAT DAN SUKSES BUAT ANDA YANG MEMBACA

Sabtu, 05 Maret 2011

BERSIAP UNTUK "MENANG" ATAU "KALAH"

BERSIAP untuk menang atau "kalah". Ini penting, teman! Banyak orang yang hanya mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemenang atau meraih keberhasilan saja, tepai lupa untuk mempersiapkan dirinya untuk 'kalah' atau gagal. Kemenangan menjadi begitu berarti saat kita mengetahui dan menempuh kemenangan itu dengan sebenar-benarnya, dengan cara yang bersih dan usaha yang optimal. Maka kemenangan bukan menjadikan berhenti untuk berusaha, sebab, kemenangan saat ini harus menjadi semangat untuk meraih kemenangan di fasse berikutnya.
Bagaimana dengan bersiap untuk gagal? Kalah? Belum berhasil? sebenarnya saat kita berhenti berusaha, itulah kekalahan yang sebenarnya. Kita belum gagal saat kita masih mampu berusaha. Ada kata-kata yang sangat dalam dari tokoh pergerakan Islam, Hasan Al-Banna. Beliau berkata, "Batas antara kesuksesan dan keberhasilan adalah Keputusasaan".
Seseorang yang dalam dirinya telah terjangkiti penyakit putus asa, dia merasa sangat lemah meskipun masih bertenaga, merasa miskin meski berharta, merasa minder meskipun masih memiliki potensi diri yang tinggi.
Berarti ..., kegagalan hanyalah satu fase untuk mengevaluasi diri tentang segala usaha dan niatan kita Klise memang, tapi ini benar. Mengapa kita takut gagal? Kebanyakan diantara kita, tidak mau gagal karena takut pada tanggapan orang lain terhadap diri kita. Kita akan siap untuk kalah dan gagal, jika kita mampu berfikir positif, bahwa kita telah melakukan sesuatu yang besar, proses yang hebat dan kegagalan adalah pemicu kita untuk menyempurnakan usaha dan do'a!
Jadi permasalahannya sebenarnya ada pada 'tingkat kebosanan kita' bukan? Saat kita bosan untuk berusaha ...  maka kesuksesan, kemenangan akan semakin JAUH!

Kamis, 17 Februari 2011

Bidadari Setengah Hati

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah.
Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab ”Insya Allah yang penting hati dulu ya...ng berjilbab. ” Sudah banyak orang menanyakan maupun enasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam.
Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa
merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.

Ia tak sendiri.
Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati
keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu'alaikum,

saudariku....”

“Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

"Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”

"Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”

Wanita itu tersenyum
lagi ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”

“Alhamdulillah..”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka.
Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.

“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.
“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu
“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat

“ Tunggu..tunggu aku..”
dia berlari namun tetap tertinggal
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak

“Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu
ringan ?”
“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu.

“ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”

Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata

“Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku ?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

“ Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYa tanpa jilbab menutup auratmu ?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata

”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adlah menghijabi hati.”

Ia tertegun,,,lalu terbangun,,, beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu,,, berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

oleh Nafhot Aly Westhoff

Minggu, 06 Februari 2011

amal perbuatan pada hari akhir nanti

Rasulullah SAW berkisah pd Abu Huraihah tentang amal perbuatan pada hari akhir nanti. Baginda bersabda," Yang pertama akan ditanya Allah pada hari kiamat nanti terdiri dari tiga orang.
Pertama, lelaki yg diberi ilmu oleh Allah, lalu Allah akan bertanya,"Apa yang telah kamu lakukan dengan ilmu yang kau ketahui?" Orang itu menjawab,"Wahai Tuhanku, dengan ilmu itu aku bangun berdiri mengerjakan sholat malam."
Maka Allah menjawab,"Engkau telah berdusta." Para malaikat pun berkata,"Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanya hendak dikatakan sebagai orang alim dan sesungguhnya mereka berkata demikian."

Kedua, orang yang diberi harta oleh Allah SWT lalu Allah bertanya, "Apa yang telah kau lakukan dengan harta yang Kuberikan?" Orang itu menjawab,"Wahai Tuhanku, aku bersedekah dengan harta itu pada tengah malam."
Maka Allah menjawa,"Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanya ingin dikatakan sebagai pemurah dan sesungguhmya mereka telah berkata demikian."

Ketiga, orang yang terbunuh di jalan Allah dan Allah bertanya,"Apa yang telah engkau perbuat?" Orang itu menjawab," Wahai Tuhanku, aku diperintah untuk berjihad maka aku berperang hingga aku terbunuh."
Maka Allah berkata,"Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanya hendak dikatakan sebagai pemberani dan sesungguhnya mereka telah benar-benar berkata demikian."

Kemudian Rasulullah berkata,"Hai Abu Huraihah, mereka itulah orang pertama yang dimasukkan ke dalam neraka jahanam pada hari kiamat nanti."

HARI-HARI TERAKHIR ROSULULLAH (Detik-detik Rasulullah S.A.W. menjelang sakratul maut)

 Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an.

       Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku. " Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.

       Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua, " desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

       Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

       Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam, " kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya, " tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.

       Dialah malakul maut, " kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? "Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, "kata jibril.

       Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini? "Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya, " kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini. " Lirih Rasulullah mengaduh.

       Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril? "Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "

       Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal, " kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. " Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.

       Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu. "

       Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
 "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi.